Linguistik Indonesia

Kebangkitan Lingustik Indonesia

 

 Oleh

MUHAMMAD HASRI

 

Kebangkitan linguistik Indonesia tidak terlepas dari jasa sejumlah tokoh. Mereka ini terdiri atas sarjana Barat dan sarjana Pribumi.

Dua hal yang patut mendapat perhatian dalam mengulas kebangkitan linguistik Indonesia, yaitu karya yang dihasilkan oleh sederet tokoh dan pemikiran linguistik yang mereka letakkan yang menyebabkan terpicunya perkembangan linguistik Indonesia. Karya para tokoh tersebut disajikan dalam sebuah tabel dan pemikiran mereka disajikan dalam bentuk uraian.

 

Tokoh dan Karya Pemicu Kebangkitan Linguistik Indonesia

Diurut Berdasarkan Tahun Buku

NO

NAMA

TAHUN BUKU

JUDUL TULISAN

1

Joannes Roman

1653

Grond ofte Kort Berich van de Malaysche Tale, Vervat in Twee Deelen: Het eerste handelende van de Letters ende Haren aenhangh, Het Andere, van de deelen eener Redene

2

George Henrik Werndly

1736

Maleische Spraakkuntst

3

William Marsden

1812

A Grammar of the Malayan Language

4

John Crawfurd

1852

A Grammar and Dictionary of the Malay Language

5

Raja Ali Haji

1857 dan 1859

Bustanul Katibin

 

Kitab Pengetahuan Bahasa

6

J.J. de Hollander

1882

Handleiding bij de Boefening der Maleische Taal en Letterkunde

7

Gerth van Wijk

1889

Spraakleer der Maleische Taal

8

Koewatin Sasrasoeganda

1910

Kitab jang Menyatakan Djalan Bahasa Melajoe

9

Ch. Van Ophujsen

1915

Maleische Spraakkunst

10

R. O.  Winsted

1914

Malay Grammar

11

Zainal ‘Abidin bin Ahmad (Za’ba)

1940

Pelita Bahasa Melayu

12

Soetan Moehammad Zain

1943

Djalan Bahasa Indonesia

13

S. Takdir Alisjahbana

1953

Tata Bahasa Baru Bahasa Indonesia

14

Madong Lubis

1954

Paramasastra Lanjut

15

I. R. Poedjawijatna dan P.J. Zoetmulder

1955

Tata Bahasa Indonesia

16

C. A. Mess

1957

Tatabahasa Indonesia

17

Slametmuljana

1957

Kaidah Bahasa Indonesia

18

Teeuw

1961

Critical Survey of Studies on Malay and Bahasa Indonesia

19

E. M. F. Payne

1964

Basic Syntactic Structures in Standar Malay

20

Ramlan

1964

 

1985

Tipe-tipe Konstruksi Frase dalam Bahasa Indonesia

Tata Bahasa Indonesia, Penggolongan Kata

21

Anton M. Moeliono

1967

Suatu Reorientasi dalam Tata Bahasa Indonesia

22

Gorys Keraf

1969

Tatabahasa Indonesia

23

S. Wojowasito

1978

Ilmu Kalimat Strukturil

24

Samsuri

1985

Tata Kalimat Bahasa Indonesia

 

            Keduapuluh empat linguis di atas membentangkan gagasan dengan silang pendapat yang sangat menarik. Perbedaan filosofi kajian mereka terekam dalam pembahasan mengenai kelas kata yang mereka lakukan. Keduapuluh empat linguis tersebut membagi kelas kata bahasa Indonesia secara bervariasi. Jumlah kelas kata yang paling sedikit dilakukan oleh Samsuri (1985) yang hanya membagi kelas kata bahasa Indonesia atas dua kelas saja dan jumlah kelas kata yang paling banyak dilakukan oleh Ramlan (1985) yang membagi kelas kata bahasa Indonesia atas 12 kelas kata. Kridalaksana (1986) secara memadai menyajikan bahasan mengenai silang pendapat kelas kata bahasa Indonesia yang pernah dituliskan oleh ke dua puluh empat linguis di atas.

            Ada  beberapa filosofi berpikir yang berkembang pada perkembangan awal kajian linguistik Indonesia. Kridalaksana (1986: 9 – 26) membaginya ke dalam empat kategori, yaitu pandangan yang mengacu ke (1) tatabahasa pedagogis, (2) tatabahasa teknis, (3) tatabahasa modern, dan (4) tatabahasa pedagogis yang berorientasi linguistis. Empat kategori ini dapat dirinci menjadi dua garis besar saja, yaitu tatabahasa pedagogis yang berorientasi ke tatabahasa tradisional dan tata bahasa teknis yang menjadikan struktural sebagai pijakan analisis.

            Tatabahasa pedagogis merupakan kajian linguistik yang bertujuan mempelajari suatu bahasa untuk keperluan penguasaan bahasa tersebut agar dapat digunakan dalam berkomunikasi dengan orang lain baik dengan penutur asli maupun dengan penutur asing. Tata bahasa pedagogis merupakan pelengkap dari pengajaran bahasa. Pada perkembangan awal kajian linguistik secara pedagogik dilakukan oleh kaum penjajah untuk memperkukuh kekuasaannya dan oleh kaum misionaris nasrani dan muslim untuk menyebarkan agamanya.

Ada dua kelompok tatabahasa pedagogis, kelompok pertama mereka yang menelaah bahasa ini secara nonformal untuk tujuan mempelajari bahasa Melayu dengan maksud ingin berintegrasi dengan masyarakat nusantara. Kelompok kedua,  mereka yang mulai menyusun tatabahasa dengan maksud diajarkan secara formal kepada orang lain. Kedua kelompok ini umumnya dipelopori oleh linguis Belanda. Kajian linguistiknya didasarkan pada telaah yang telah dilakukan terhadap bahasa Belanda. Kajian ini mengacu kepada tatabahasa tradisional sesuai pandangan Aristoteles terutama dalam hal kelas kata. Mereka mengkaji bahasa berdasarkan makna yang bersifat normatif dan tidak terlalu peduli terhadap bentuk. Hal ini terlihat jelas dalam kelas kata yang mereka buat.

Kridalaksana (1986: 10 – 18) menyebutkan sejumlah nama yang tergolong ke dalam penelaah tatabahasa pedagogis ini antara lain Joannes Roman (1653), George Henrik Werndly (1736), William Marsden (1812), John Crawfurd (1852), Raja Ali Haji (1857 dan 1859), J.J. de Hollander (1882), Gerth van Wijk (1889), Koewatin Sasrasoeganda (1910), Ch. Van Ophujsen (1915), R. O.  Winsted (1914), Soetan Moehammad Zain (1943), Sutan Takdir Alisjahbana (1953), Madong Lubis (1954), I.R. Poedjawijatna dan P. J. Zoetmulder (1955), dan C. A. Mess (1957). Sejak dari Joanes Roman (1653) sampai dengan John Crawfurd (1852) telaah tatabahasa pedagogis dilakukan dengan tujuan ingin menguasai bahasa Melayu dan menggunakannya secara langsung ke penutur bahasa Melayu di Nusantara untuk memenuhi kebutuhan mereka. Hasil telaah ini dipelajari secara nonformal oleh komunitas Belanda yang bertugas di Indonesia. Mulai pada masa Raja Ali Haji (1857) hingga masa C. A. Mess (1957) tatabahasa pedagogis ini dipelajari secara formal baik melaui bangku sekolah maupun dalam kursus-kursus bahasa.

Di antara linguis tatabahasa pedagogis ini Kridalaksana (1986:14) menyebutkan bahwa Koewatin Sasrasoganda (1910) adalah  linguis pribumi pertama yang menulis tatabahasa Melayu dalam bahasa Melayu dengan tradisi Yunani-Latin-Belanda. Kridalaksana menggelarinya sebagai Bapak Tata Bahasa Tradisional.

 Kategori kedua adalah tata bahasa teknis. Tata bahasa ini berusaha untuk memahami bahasa dengan memanfaatkan teori dan metode linguistik. Linguis sudah mulai menggunakan kriteria yang jelas dalam penelaahan bahasa. Linguis yang digolongkan ke dalam kategori ini adalah Slametmuljana (1957), Anton M. Moeliono (1967), S. Wojowasito (1978). M. Ramlan (1985), dan Samsuri (1985).

Slamemuljana (1957) menelaah bahasa Indonesia dengan menggunakan analisis fungsionalistis, yaitu analisis yang menekankan kepada fungsi gramatika dalam telaah kalimat. Slametmuljana mulai mengenalkan gatra, seperti gatra sebutan untuk subjek, gatra pangkal untuk predikat. Telaah ini menekankan kepada fungsi kalimat. Kepulangan Anton M. Moeliono dari Amerika Serikat memicu perkembangan besar linguistik Indonesia. Chaer (2007:378) menyatakan bahwa Anton M. Moeliono dan T. W. Kamil yang baru saja pulang dari Amerika Serikat, keduanya adalah orang yang pertama kali mengenalkan konsep fonem, morfem, frasa dan klausa dalam pendidikan formal linguistik di Indonesia. Sebelumnya yang dikenal hanya kata dan kalimat.

Kehadiran M. Ramlan (1985) dengan tatabahasa struktural dan Samsuri (1985) dengan tatabahasa generatif membangkitkan linguistik Indonesia menjadi sebuah kajian yang menarik perhatian. Konsep struktural Ferdinan de Saussure disusul  oleh strukturalisme Bloomfield dan teori transformasi Chomsky mulai bergema di berbagai perguruan tinggi. Kajian Keraf dan Kajian Verhaar terhadap bahasa Indonesia melengkapi kebangkitan telaah linguistik Indonesia. (Hasri:\D\Tugas Kuliah\Kebangkitan Linguistik Indonesia)

 

Kepustakaan

Alisjahbana, S. T. A.

1988          Revolusi Masyarakat dan Kebudayaan Indonesia. Jakarta: Dian

Rakyat.

Asy’ari (Editor)

2008          Manusia Renaissance Relevansi Pemikiran Sutan Takdir

Alisjahbana. Jakarta: Dian Rakyat.

Chaer, A.

            2007     Linguistik Umum. Jakarta: PT Rineka Cipta

Keraf, G.

1970          Tatabahasa Indonesia. Ende-Flores: Nusa Indah.

Kridalaksana, H.

            1986     Kelas Kata dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Gramedia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: