Bintek KTSP: Sebuah Pengabdian

Tanggal 14 sampai dengan 26 Juli 2008 adalah hari yang sangat bersejarah dalam menyempurnakan pengabdian sebagai widyaiswara. Perjalanan panjang menyusuri kota Ambon kemudian melintas laut menyeberang ke Pulau Saparua, negeri kelahiran Ilyas Pical, sang petinju lengan kidal, mengukir perjalanan untuk semakin mencintaimu Indonesiaku.

Adalah Ambon dengan sisa kerusuhan yang nyaris tak terselamatkan telah memancarkan cahaya kedamaian meski luka belum seratus persen sembuh dalam hati. Sebuah pengorbanan panjang untuk belajar pada sejarah. Sebuah pelajaran emas untuk bicara tentang kedamaian. Setetes air mata menetes dalam sukma. Menatap Ambon dengan luka sembuh yang semakin mengering. Hari ini ia telah total sembuh meski meninggalkan bekas yang sulit ditutupi.

Bagian pantai dalam kota dengan Masjid Al-Fatah yang bermenara menjulang tinggi membentang menuju Utara hingga Tanah Merah adalah bekas luka yang disebut Kawasan Muslim, atau kawasan putih dan bagian Timur dengan lereng-lereng bukit adalah kawasan merah yang menoreh bekas luka. Tak lagi ada rumah muslim yang terjepit di sela rumah nasrani dan tak juga ada rumah nasrani yang terjepit di rumah muslim. Ini lah bekas luka yang ditinggal kerusuhan pada waktu kelam silam.

Perkampungan pun tegas terbagi dua. Perkampungan putih dan perkampungan merah. Merah putih tak terdefinisikan seperti merah putih dalam bendera Indonesia. Tetapi, merah adalah Nasrani dan putih adalah muslim. Ah, alangkah sadis bekas luka sebuah kerusuhan. Tuhan jadikan semua ini sebagai pelajaran bagi kami dan jadikan semua ini untuk menetapkan hati kami sebagai sebuah Persaudaraan yang tak tergoyahkan. Cukup yang silam terkubur dan takkan terulang lagi.

Di tengah komunitas merah saya mulai menyaji materi KTSP. Rasa bersudara terukir sudah dalam hati. Keramahan telah ditunjukkan dengan sempurna oleh para peserta. Bayangan kekhawatiran yang saya bawa dari Makassar menjadi luntur dan terasa saya lebih aman di banding dengan di tengah komunitas muslim yang kehabisan beras di Makassar. Dialog dan respon positif bertaburan tak kala usia menyaji materi. Hati menjadi lega dan hati saya pun semakin siap menjadi bagian dari komunitas Ambon.

 Bicara mengenai KTSP di Maluku sangatlah berbeda dengan konteks di Sulawesi apatah lagi di Jawa. Maluku adalah wilayah kepulauan. Kekayaan laut tak terkira banyaknya. Belum lagi kekayaan hutan dengan sagu sebagai primadonanya dan cengkeh serta pala sebagai komoditas pelengkap dan utama. Di laut dengan mudah mereka menangkap ikan. Di darat, mereka dengan mudah mendapatkan sagu. Mereka tak akan pernah kehabisan makanan. Lalu apa masalah utamanya?

Hidup bukanlah sebuah tujuan, tetapi hidup hanyalah sebuah fasilitas. Untuk menjadikan hidup menjadi bermakna kiranya harus dibuat menjadi bermakna bagi orang lain. Bagaimanakah mengemas Ambon hingga menjadi bermakna bagi daerah lain? KTSP di Ambon harus digenjot ke arah pemasaran hasil komoditas laut dan hutan ke daerah lain. Potensi pengembangan PBKL sangat besar untuk dikembangkan di sana. Muatan lokal Maluku akan lebih bermakna bilamana digandengkan dengan Dinas Perindustrian untuk menyediakan teknologi kemasan yang standar.

Abon ikan, pemasaran hasil produksi sagu, mutiara, kerang laut, durian, dan sejumlah lainnya butuh teknologi pengolahan yang diikuti dengan teknologi pengemasan. Dengan mudah ikan dapat ditangkap tetapi dengan memudah pula dia dibuang dan membusuk. Dengan mudah sagu diolah tetapi dengan mudah pula menjadi tercampakkan karena kesulitan pemasaran. Muatan lokal pengemasan sangat dibutuh di sana. Siapakah yang akan menjadi pahlawannya?

Maluku engkau butuh teknograt!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: