Permen No 20/2007 Tentang Standar Penilaian

SALINAN


PERATURAN
MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL
REPUBLIK INDONESIA

NOMOR 20 TAHUN 2007
TENTANG
STANDAR PENILAIAN PENDIDIKAN
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL,

Menimbang : bahwa dalam rangka mengendalikan mutu hasil pendidikan sesuai standar nasional pendidikan yang dikembangkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan, perlu menetapkan Standar Penilaian Pendidikan dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional;

Mengingat : 1. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 41, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4496);

2. Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi, dan Tata Kerja Kementerian Negara Republik Indonesia sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 94 Tahun 2006;

3. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 187/M Tahun 2004 mengenai Pembentukan Kabinet Indonesia Bersatu sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 31/P Tahun 2007;

MEMUTUSKAN

Menetapkan : PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA TENTANG STANDAR PENILAIAN PENDIDIKAN.


Muslikh, S.H. NIP 131479478

(1) Penilaian hasil belajar peserta didik pada jenjang pendidikan dasar dan menengah dilaksanakan berdasarkan standar penilaian pendidikan yang berlaku secara nasional.

(2) Standar penilaian pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam Lampiran Peraturan Menteri ini.

Pasal 2

Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Ditetapkan di Jakarta

pada tanggal 20 Juni 2007

MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL, TTD.

BAMBANG SUDIBYO

Salinan sesuai dengan aslinya.

Biro Hukum dan Organisasi

Departemen Pendidikan Nasional,

Kepala Bagian Penyusunan Rancangan

Peraturan Perundang-undangan dan

Bantuan Hukum I,


SALINAN

LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL

NOMOR 20 TAHUN 2007 TANGGAL 11 JUNI 2007

STANDAR PENILAIAN PENDIDIKAN

A. Pengertian

1. Standar penilaian pendidikan adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan mekanisme, prosedur, dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik.

2. Penilaian pendidikan adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk menentukan pencapaian hasil belajar peserta didik.

3. Ulangan adalah proses yang dilakukan untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik secara berkelanjutan dalam proses pembelajaran, untuk memantau kemajuan, melakukan perbaikan pembelajaran, dan menentukan keberhasilan belajar peserta didik.

4. Ulangan harian adalah kegiatan yang dilakukan secara periodik untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik setelah menyelesaikan satu Kompetensi Dasar (KD) atau lebih.

5. Ulangan tengah semester adalah kegiatan yang dilakukan oleh pendidik untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik setelah melaksanakan 8 – 9 minggu kegiatan pembelajaran. Cakupan ulangan meliputi seluruh indikator yang merepresentasikan seluruh KD pada periode tersebut.

6. Ulangan akhir semester adalah kegiatan yang dilakukan oleh pendidik untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik di akhir semester. Cakupan ulangan meliputi seluruh indikator yang merepresentasikan semua KD pada semester tersebut.

7. Ulangan kenaikan kelas adalah kegiatan yang dilakukan oleh pendidik di akhir semester genap untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik di akhir semester genap pada satuan pendidikan yang menggunakan sistem paket. Cakupan ulangan meliputi seluruh indikator yang merepresentasikan KD pada semester tersebut.

8. Ujian sekolah/madrasah adalah kegiatan pengukuran pencapaian kompetensi peserta didik yang dilakukan oleh satuan pendidikan untuk memperoleh pengakuan atas prestasi belajar dan merupakan salah satu persyaratan kelulusan dari satuan pendidikan. Mata pelajaran yang diujikan adalah mata pelajaran kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi yang tidak diujikan dalam ujian nasional dan aspek kognitif dan/atau psikomotorik kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia serta kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian yang akan diatur dalam POS Ujian Sekolah/Madrasah.


9. Ujian Nasional yang selanjutnya disebut UN adalah kegiatan pengukuran pencapaian kompetensi peserta didik pada beberapa mata pelajaran tertentu dalam kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi dalam rangka menilai pencapaian Standar Nasional Pendidikan.

10. Kriteria ketuntasan minimal (KKM) adalah kriteria ketuntasan belajar (KKB) yang ditentukan oleh satuan pendidikan. KKM pada akhir jenjang satuan pendidikan untuk kelompok mata pelajaran selain ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan nilai batas ambang kompetensi.


B. Prinsip Penilaian


Penilaian hasil belajar peserta didik pada jenjang pendidikan dasar dan menengah didasarkan pada prinsip-prinsip sebagai berikut:

1. sahih, berarti penilaian didasarkan pada data yang mencerminkan kemampuan yang diukur.

2. objektif, berarti penilaian didasarkan pada prosedur dan kriteria yang jelas, tidak dipengaruhi subjektivitas penilai.

3. adil, berarti penilaian tidak menguntungkan atau merugikan peserta didik karena berkebutuhan khusus serta perbedaan latar belakang agama, suku, budaya, adat istiadat, status sosial ekonomi, dan gender.

4. terpadu, berarti penilaian oleh pendidik merupakan salah satu komponen yang tak terpisahkan dari kegiatan pembelajaran.

5. terbuka, berarti prosedur penilaian, kriteria penilaian, dan dasar pengambilan keputusan dapat diketahui oleh pihak yang berkepentingan.

6. menyeluruh dan berkesinambungan, berarti penilaian oleh pendidik mencakup semua aspek kompetensi dengan menggunakan berbagai teknik penilaian yang sesuai, untuk memantau perkembangan kemampuan peserta didik.

7. sistematis, berarti penilaian dilakukan secara berencana dan bertahap dengan mengikuti langkah-langkah baku.

8. beracuan kriteria, berarti penilaian didasarkan pada ukuran pencapaian kompetensi yang ditetapkan.

9. akuntabel, berarti penilaian dapat dipertanggungjawabkan, baik dari segi teknik, prosedur, maupun hasilnya.


C. Teknik dan Instrumen Penilaian


1. Penilaian hasil belajar oleh pendidik menggunakan berbagai teknik penilaian berupa tes, observasi, penugasan perseorangan atau kelompok, dan bentuk lain yang sesuai dengan karakteristik kompetensi dan tingkat perkembangan peserta didik.


2. Teknik tes berupa tes tertulis, tes lisan, dan tes praktik atau tes kinerja.

3. Teknik observasi atau pengamatan dilakukan selama pembelajaran berlangsung dan/atau di luar kegiatan pembelajaran.

4. Teknik penugasan baik perseorangan maupun kelompok dapat berbentuk tugas rumah dan/atau proyek.

5. Instrumen penilaian hasil belajar yang digunakan pendidik memenuhi persyaratan (a) substansi, adalah merepresentasikan kompetensi yang dinilai, (b) konstruksi, adalah memenuhi persyaratan teknis sesuai dengan bentuk instrumen yang digunakan, dan (c) bahasa, adalah menggunakan bahasa yang baik dan benar serta komunikatif sesuai dengan taraf perkembangan peserta didik.

6. Instrumen penilaian yang digunakan oleh satuan pendidikan dalam bentuk ujian sekolah/madrasah memenuhi persyaratan substansi, konstruksi, dan bahasa, serta memiliki bukti validitas empirik.

7. Instrumen penilaian yang digunakan oleh pemerintah dalam bentuk UN memenuhi persyaratan substansi, konstruksi, bahasa, dan memiliki bukti validitas empirik serta menghasilkan skor yang dapat diperbandingkan antarsekolah, antardaerah, dan antartahun.


D. Mekanisme dan Prosedur Penilaian


1. Penilaian hasil belajar pada jenjang pendidikan dasar dan menengah dilaksanakan oleh pendidik, satuan pendidikan, dan pemerintah.

2. Perancangan strategi penilaian oleh pendidik dilakukan pada saat penyusunan silabus yang penjabarannya merupakan bagian dari rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP).

3. Ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, dan ulangan kenaikan kelas dilakukan oleh pendidik di bawah koordinasi satuan pendidikan.

4. Penilaian hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran dalam kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi yang tidak diujikan pada UN dan aspek kognitif dan/atau aspek psikomotorik untuk kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia dan kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian dilakukan oleh satuan pendidikan melalui ujian sekolah/madrasah untuk memperoleh pengakuan atas prestasi belajar dan merupakan salah satu persyaratan kelulusan dari satuan pendidikan.

5. Penilaian akhir hasil belajar oleh satuan pendidikan untuk mata pelajaran kelompok mata pelajaran estetika dan kelompok mata pelajaran pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan ditentukan melalui rapat dewan pendidik berdasarkan hasil penilaian oleh pendidik.


6. Penilaian akhir hasil belajar peserta didik kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia dan kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian dilakukan oleh satuan pendidikan melalui rapat dewan pendidik berdasarkan hasil penilaian oleh pendidik dengan mempertimbangkan hasil ujian sekolah/madrasah.

7. Kegiatan ujian sekolah/madrasah dilakukan dengan langkah-langkah: (a) menyusun kisi-kisi ujian, (b) mengembangkan instrumen, (c) melaksanakan ujian, (d) mengolah dan menentukan kelulusan peserta didik dari ujian sekolah/madrasah, dan (e) melaporkan dan memanfaatkan hasil penilaian.

8. Penilaian akhlak mulia yang merupakan aspek afektif dari kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, sebagai perwujudan sikap dan perilaku beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME, dilakukan oleh guru agama dengan memanfaatkan informasi dari pendidik mata pelajaran lain dan sumber lain yang relevan.

9. Penilaian kepribadian, yang merupakan perwujudan kesadaran dan tanggung jawab sebagai warga masyarakat dan warganegara yang baik sesuai dengan norma dan nilai-nilai luhur yang berlaku dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa, adalah bagian dari penilaian kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian oleh guru pendidikan kewarganegaraan dengan memanfaatkan informasi dari pendidik mata pelajaran lain dan sumber lain yang relevan.

10.Penilaian mata pelajaran muatan lokal mengikuti penilaian kelompok mata pelajaran yang relevan.

11. Keikutsertaan dalam kegiatan pengembangan diri dibuktikan dengan surat keterangan yang ditandatangani oleh pembina kegiatan dan kepala sekolah/madrasah.

12. Hasil ulangan harian diinformasikan kepada peserta didik sebelum diadakan ulangan harian berikutnya. Peserta didik yang belum mencapai KKM harus mengikuti pembelajaran remedi.

13. Hasil penilaian oleh pendidik dan satuan pendidikan disampaikan dalam bentuk satu nilai pencapaian kompetensi mata pelajaran, disertai dengan deskripsi kemajuan belajar.

14.Kegiatan penilaian oleh pemerintah dilakukan melalui UN dengan langkah-langkah yang diatur dalam Prosedur Operasi Standar (POS) UN.

15. UN diselenggarakan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) bekerjasama dengan instansi terkait.

16. Hasil UN disampaikan kepada satuan pendidikan untuk dijadikan salah satu syarat kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan dan salah satu pertimbangan dalam seleksi masuk ke jenjang pendidikan berikutnya.


17. Hasil analisis data UN disampaikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan untuk pemetaan mutu program dan/atau satuan pendidikan serta pembinaan dan pemberian bantuan kepada satuan pendidikan dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan.


E. Penilaian oleh Pendidik


Penilaian hasil belajar oleh pendidik dilakukan secara berkesinambungan, bertujuan untuk memantau proses dan kemajuan belajar peserta didik serta untuk meningkatkan efektivitas kegiatan pembelajaran. Penilaian tersebut meliputi kegiatan sebagai berikut:

1. menginformasikan silabus mata pelajaran yang di dalamnya memuat rancangan dan kriteria penilaian pada awal semester.

2. mengembangkan indikator pencapaian KD dan memilih teknik penilaian yang sesuai pada saat menyusun silabus mata pelajaran.

3. mengembangkan instrumen dan pedoman penilaian sesuai dengan bentuk dan teknik penilaian yang dipilih.

4. melaksanakan tes, pengamatan, penugasan, dan/atau bentuk lain yang diperlukan.

5. mengolah hasil penilaian untuk mengetahui kemajuan hasil belajar dan kesulitan belajar peserta didik.

6. mengembalikan hasil pemeriksaan pekerjaan peserta didik disertai balikan/komentar yang mendidik.

7. memanfaatkan hasil penilaian untuk perbaikan pembelajaran.

8. melaporkan hasil penilaian mata pelajaran pada setiap akhir semester kepada pimpinan satuan pendidikan dalam bentuk satu nilai prestasi belajar peserta didik disertai deskripsi singkat sebagai cerminan kompetensi utuh.

9. melaporkan hasil penilaian akhlak kepada guru Pendidikan Agama dan hasil penilaian kepribadian kepada guru Pendidikan Kewarganegaraan sebagai informasi untuk menentukan nilai akhir semester akhlak dan kepribadian peserta didik dengan kategori sangat baik, baik, atau kurang baik.


F. Penilaian oleh Satuan Pendidikan


Penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan dilakukan untuk menilai pencapaian kompetensi peserta didik pada semua mata pelajaran. Penilaian tersebut meliputi kegiatan sebagai berikut:


1. menentukan KKM setiap mata pelajaran dengan memperhatikan karakteristik peserta didik, karakteristik mata pelajaran, dan kondisi satuan pendidikan melalui rapat dewan pendidik.

2. mengkoordinasikan ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, dan ulangan kenaikan kelas.

3. menentukan kriteria kenaikan kelas bagi satuan pendidikan yang menggunakan sistem paket melalui rapat dewan pendidik.

4. menentukan kriteria program pembelajaran bagi satuan pendidikan yang menggunakan sistem kredit semester melalui rapat dewan pendidik.

5. menentukan nilai akhir kelompok mata pelajaran estetika dan kelompok mata pelajaran pendidikan jasmani, olah raga dan kesehatan melalui rapat dewan pendidik dengan mempertimbangkan hasil penilaian oleh pendidik.

6. menentukan nilai akhir kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia dan kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian dilakukan melalui rapat dewan pendidik dengan mempertimbangkan hasil penilaian oleh pendidik dan nilai hasil ujian sekolah/madrasah.

7. menyelenggarakan ujian sekolah/madrasah dan menentukan kelulusan peserta didik dari ujian sekolah/madrasah sesuai dengan POS Ujian Sekolah/Madrasah bagi satuan pendidikan penyelenggara UN.

8. melaporkan hasil penilaian mata pelajaran untuk semua kelompok mata pelajaran pada setiap akhir semester kepada orang tua/wali peserta didik dalam bentuk buku laporan pendidikan.

9. melaporkan pencapaian hasil belajar tingkat satuan pendidikan kepada dinas pendidikan kabupaten/kota.

10. menentukan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan melalui rapat dewan pendidik sesuai dengan kriteria:

a. menyelesaikan seluruh program pembelajaran.

b. memperoleh nilai minimal baik pada penilaian akhir untuk seluruh mata pelajaran kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia; kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian; kelompok mata pelajaran estetika; dan kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga, dan kesehatan.

c. lulus ujian sekolah/madrasah.

d. lulus UN.

11. menerbitkan Surat Keterangan Hasil Ujian Nasional (SKHUN) setiap peserta didik yang mengikuti Ujian Nasional bagi satuan pendidikan penyelenggara UN.

12. menerbitkan ijazah setiap peserta didik yang lulus dari satuan pendidikan bagi satuan pendidikan penyelenggara UN.


G. Penilaian oleh Pemerintah


1. Penilaian hasil belajar oleh pemerintah dilakukan dalam bentuk UN yang bertujuan untuk menilai pencapaian kompetensi lulusan secara nasional pada mata pelajaran tertentu dalam kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi.

2. UN didukung oleh suatu sistem yang menjamin mutu dan kerahasiaan soal serta pelaksanaan yang aman, jujur, dan adil.

3. Dalam rangka penggunaan hasil UN untuk pemetaan mutu program dan/atau satuan pendidikan, Pemerintah menganalisis dan membuat peta daya serap berdasarkan hasil UN dan menyampaikan ke pihak yang berkepentingan.

4. Hasil UN menjadi salah satu pertimbangan dalam pembinaan dan pemberian bantuan kepada satuan pendidikan dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan.

5. Hasil UN digunakan sebagai salah satu pertimbangan dalam menentukan kelulusan peserta didik pada seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya.

6. Hasil UN digunakan sebagai salah satu penentu kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan yang kriteria kelulusannya ditetapkan setiap tahun oleh Menteri berdasarkan rekomendasi BSNP.

MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL, TTD.

BAMBANG SUDIBYO

Salinan sesuai dengan aslinya.

Biro Hukum dan Organisasi

Departemen Pendidikan Nasional,

Kepala Bagian Penyusunan Rancangan

Peraturan Perundang-undangan dan

Bantuan Hukum I,

Muslikh, S.H. NIP 131479478

Jumpa lagi Webb-ku

Hari ini aku menengokmu lagi. Bulan lalu waktu kuhabiskan di luar tuts web. Aku lebih banyak ngeluyur saja. Berjalan di sela kampus, menonton TV, mengamati orang-orang yang lagi marak demo BHP. Sekarang kukunjungi lagi kamu wahai web-ku. Sahabatku yang selalu setia sebagai tempat mencurahkan inspirasikan.

Ada banyak tulisan yang masih belum kuterbitkan dalam ruangmu. Tunggulah, kupilihkan beberapa yang layak baca. Puluhan KTI yang dibuat oleh siswa telah tersedia dalam folderku. Hasil dari  Perkemahan Ilmiah Remaja tetapi belum kupilih manakah yang layak bagimu.

Hari ini cukup aku berunek-unek saja, yah! Sekedar menghilangkan penat. Merenungi hujan yang mulai reda dan mensyukuri banjir yang telah berlalu, meski rumahku tahun ini tidak kebagian banjir.

Kuharap pada hari-hari mendatang banjir tulisan menghujani web manizku ini. Maafkan aku, ya! sebab gambar-gambar dan aneka warna-warni belum kupernikkan pada wajahmu. Mungkin pengunjung akan bosan bersamamu. Tak apalah, suatu saat nanti kamu akan menjadi cantik melebihi cantiknya hatiku padamu.

Sabarlah, ya! Webb-ku. Nanti kujenguk engkau dengan ciuman sayang yang mesraa sekali. Terbaringlah menanti pengunjung dalam bilik mungilmu. daaaag!

IMPLEMENTASI PERILAKU GOTONG ROYONG DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT PERKOTAAN BULUKUMBA

KARYA TULIS ILMIAH

IMPLEMENTASI PERILAKU GOTONG ROYONG DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT PERKOTAAN BULUKUMBA

Disusun Oleh :

KELOMPOK

ARIDA MEITYA ARIFIN ( SMPN 2 BULUKUMBA)

A. USWAH HANAFI (SMPN 1 BULUKUMBA)

SYAHRUL FATWA DM (SMPN 1 BONTOBAHARI)

A.M. FAISAL ICHSAN (SMPN 1 BULUKUMBA)

MUSDAR ISMAIL (SMPN 3 BULUKUMBA)


KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah swt, karena atas karunianya karya tulis ilmiah ini yang berjudul “IMPLEMENTASI PERILAKU GOTONG ROYONG MASYARAKAT PERKOTAAN BULUKUMBA”, dapat terselesaikan.

Karya tulis ini tidak mungkin selesai tanpa bantuan dan dukungan pihak lain. Untuk itu pada kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada:

1. Kepada orang tua penulis, yang dengan susah payah memberikan dukungan moral dan materi kepada penulis.

2. Kepada LIPI, BP-PLSP Perkemahan Ilmiah Remaja tahun 2007.

3. Kepada Dinas Pendidikan Kab. Bulukumba.

4. Kepada para pendamping PIR 2007.

5. Kepada bapak kepala sekolah yang mendukung PIR 2007

6. Teman- teman dan pihak lain yang turut membantu baik secara moral maupun secara material.

Penulis juga menyadari bahwa karya tulis ini belum sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun. Penulis juga berharap karya ini bermanfaat bagi masyarakat dan negara tercinta.

Bulukumba, Mei 2007

Penulis


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Gotong royong merupakan salah satu ciri khas bangsa Indonesia khususnya Kab. Bulukumba, sebagaimana yang tertuang dalam pancasila yaitu sila ke- 3 “Persatuan Indonesia”. Perilaku gotong royong yang telah dimiliki Bangsa Indonesia sejak dahulu kala. Gotong royong merupakan keperibadian bangsa dan merupakan budaya yang telah berakar kuat dalam kehidupan masyarakat. Gotong royong tumbuh dari kita sendiri, prilaku dari masyarakat.

Namun seiring dengan waktu yang berjalan, perilaku kegotong royongan mulai memudar akibat pengaruh dari budaya luar yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia khususnya di Kab. Bulukumba. Seperti budaya individualisme dan materialisme yang telah merambah daerah perkotaan.

Oleh karena itu untuk mengetahui seberapa besar pengaruh budaya individualisme pada masyarakat, maka melalui penelitian ini kami mencari fakta pengaruh budaya individualisme dan materialisme ini.

B. Rumusan Masalah

  1. Apakah masyarakat perkotaan di Bulukumba masih menerapkan perilaku gotong royong ?
  1. Bagaimana bentuk gotong royong dalam masyarakat perkotaan di Bulukumba ?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka dapat dituliskan tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Untuk mengetahui apakah masyarakat masih menerapkan gotong royong dalam kehidupan masyarakat.
  2. Untuk mengetahui bentuk gotong royong dalam masyarakat perkotaan di Bulukumba.

D. Manfaat Penelitian

1. Untuk memberikan informasi kepada masyarakat tentang penerapan kegiatan gotong royong dalam masyarakat perkotaan.

2. Untuk memberikan informasi kepada masyarakat luas tentang implementasi bentuk gotong royong pada masyarakat perkotaan di Bulukumba.


BAB II

KAJIAN TEORI DAN KERANGKA PIKIR

A. KAJIAN TEORI

1. Pengertian Gotong Royong

Gotong royong adalah suatu kegiatan yang dilakukan secara bersama-sama dan bersifat suka rela agar kegiatan yang dikerjakan dapat berjalan dengan lancar, mudah dan ringan.

Contoh kegiatan yang dapat dilakukan secara bergotong royong antara lain pembangunan fasilitas umum dan membersihkan lingkungan sekitar.

Sikap gotong royong itu seharusnya dimiliki oleh seluruh elemen atau lapisan masyarakat yang ada di Kota Bulukumba. Karena, dengan adanya kesadaran setiap elemen atau lapisan masyarakat melakukan setiap kegiatan dengan cara bergotong royong. Dengan demikian segala sesuatu yang akan dikerjakan dapat lebih mudah dan cepat diselesaikan dan pastinya pembangunan di daerah tersebut akan semakin lancar dan maju. Bukan itu saja, tetapi dengan adanya kesadaran setiap elemen atau lapisan masyarakat dalam menerapkan perilaku gotong royong maka hubungan persaudaraan atau silaturahim akan semakin erat.

Dibandingkan dengan cara individualisme yang mementingkan diri sendiri maka akan memperlambat pembangunan di suatu daerah. Karena individualisme itu dapat menimbulkan keserakahan dan kesenjangan diantara masyarakat di kota tersebut.

Perubahan ekonomi Indonesia di bawah rezim Soeharto memungkinkan masuknya modal asing dan liberalisasi. Nilai-nilai budaya mulai dengan deras masuk dan menjadi bagian dari hidup masyarakat Indonesia. Kehidupan perekonomian masyarakat berangsur-angsur berubah dari ekonomi agraris ke industri. Indusri berkembang maju dan pada zaman sekarang tatanan kehidupan lebih banyak didasarkan pada pertimbangan ekonomi, sehingga bersifat materialistik. Maka nilai kegotong royongan pada masyarakat telah memudar.

B. Kerangka Pikir

Menanam padi

– Memanen padi

– Membersihkan masjid

– Membersihkan lingkungan sekitar

IMPLEMENTASI PERILAKU GOTONG ROYONG MASYARAKAT PERKOTAAN DI BULUKUMBA

– Masyarakat

– Pemerintah

Masalah:

– Kurangnya kesadaran warga tentang pentingnya gotong royong

– Kurangnya peran serta elemen atau lapisan masyarakat

– Kurangnya dukungan dari pemerintah

– Pengaruh budaya luar yang individualis dan materialis

Dampak:

– Memudarnya penerapan gotong royong masyarakat perkotaan di Bulukumba

– Timbulnya kesenjangan antar elemen masyarakat


BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Metode Penelitian

Metode yang digunakan ialah metode penelitian deskriptif. Metode diskriptif ialah sebuah metode yang bertujuan untuk memberikan gambaran tentang suatu gejala atau suatu masyarakat tertentu. Metode tersebut adalah metode penelitian yang bertujuan sejauh mana penerapan kegotong royongan dalam masyarakat perkotaan di Kab. Bulukumba.

B. Waktu dan Tempat Penelitian

Waktu dan tempat penelitian diuraikan sebagai berikut :

1. Waktu

Penelitian dilaksanakan dalam 3 tahapan. Tahapan persiapan, penerapan atau tahap pelaksanaan,dan tahap penyelesaian

a. Tahap persiapan

Tahap persiapan adalah tahap untuk merencanakan penelitian. Pada tahap tersebut dilakukan identifikasi terhadap berbagai kebutuhan selama penelitian berlangsung. Hal tersebut berupa menentukan tema masalah, menyusun jadwal penelitian, menyiapkan instrumen peneitian, melakukan observasi awal, dan mencari referensi yang mampu menunjang kegiatan penelitian.

Tahap persiapan dilaksanakan pada tanggal 1 s/d 2 Mei 2007.

b. Tahap Pelaksanaan

Tahap pelaksanaan adalah tahapan melaksanakan penelitian. Yaitu dilakukan dengan cara turun langsung ke lokasi penelitian dan melakukan wawancara terhadap responden.

Tahap pelaksanaan dilaksanakan pada tanggal 3 Mei 2007.

c. Tahap Penyelesaian

Tahap penyelesaian adalah tahap pembuatan karya tulis, olah data hingga penyelesaian karya tulis berupa pengetikan.

Tahap tersebut dilaksanakan pada tanggal 3 s/d 4 Mei 2007.

  1. Tempat

Penelitian bertempat di obyek penelitian . Obyek penelitian ialah di perkotaan Bulukumba.

C. Populasi dan Sampel

Populasi dan sampel dalam penelitian diuraikan sebagai berikut :

  1. Populasi

Yang menjadi populasi dalam penelitian ialah elemen masyarakat yang bermukim di kota Bulukumba.

2. Sampel

Pengambilan sampel menggunakan teknik sampel random sampling (pengambilan sampel secara acak sederhana).

D. Teknik Pengumpulan Data

1. Kuesioner

Kuesioner atau daftar pertanyaan yang disebarkan kepada responden berjumlah enam belas pertanyaan ditambah beberapa pertanyaan mengenai identitas responden.

2. Observasi

Observasi dilakukan untuk mendapatkan data-data dari objek penelitian untuk memperoleh gambaran secara langsung tentang apa yang dirasakan oleh masyarakat yang tinggal di Kota Bulukumba.

3. Wawancara

Metode wawancara, yaitu penulis melakukan penyampaian pertanyaan-pertanyaan ke responden secara lisan dengan menggunakan panduan wawancara.

4. Kepustakaan

Study pustaka adalah pengambilan data-data yang akan digunakan dalam penelitian dari literatur berupa buku-buku kutipan dan data yang diperoleh di luar dari hasil temuan lapangan.

E. Teknik Analisis Data

1. Analisis Kualitatif

Analisis kualitatif, yaitu penganalisisan tentang pengaruh implementasi perilaku gotong royong masyarakat perkotaan di Bulukumba.

Data yang digunakan ialah data primer. Data primer adalah data yang diperoleh dari penulis secara langsung.


BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil penelitian

Untuk mengetahui respon dari masyarakat tentang implementasi perilaku gotong royong di masyarakat perkotaan di Bulukumba, dilakukan penelitian, terhadap 28 responden.

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, diperoleh data sebagai berikut:

Tabel 1

Masyarakat Bulukumba gemar bergotong royong

No

Jawaban Responden

Frekuensi

Persentase(%)

Keterangan

1

Ya

21

75

2

Tidak

2

7.14

3

Ragu

5

17.86

Menurut hasil kuesioner dari tabel diatas dapat diketahui bahwa 21 responden dengan persentase 75% mengatakan Ya, 2 orang dengan persentase 7,14% menyatakan tidak, dan sisanya 5 responden dengan persentase 17,86 % menyatakan ragu. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat kota Bulukumba gemar melakukan gotong royong.

Tabel 2

Pemerintah juga ikut bergotong royong

No

Jawaban Responden

Frekuensi

Persen(%)

Keterangan

1

Ya

12

42.86

2

Tidak

5

17.86

3

Ragu

11

39.29

Menurut hasil kuesioner dari tabel diatas dapat diketahui bahwa 21 responden dengan persentase 42,86 % menyatakan ya, 5 responden dengan persentase 17,86%, dan 11 responden dengan persentase 39,29% menyatakan ragu. Hal ini menunjukkan bahwa keikut sertaan pemerintah dalam perilaku gotong royong kurang maksimal.

Tabel 3

Pentingnya gotong royong dalam kehidupan sehari- hari

No

Jawaban Responden

Frekuensi

Persen(%)

Keterangan

1

Ya

28

100

2

Tidak

0

0

3

Ragu

0

0

Menurut hasil kuisioner mengenai tabel diatas dapat diketahui bahwa dari 28 responden dengan persentase 100% menyatakan ya. Hal ini menunjukkan bahwa gotong royong itu penting dalam kehidupan sehari- hari.

Tabel 4

Bergotong royong dapat menjalin hubungan silaturahim

No.

Jawaban Responden

Frekuensi

Persen(%)

Keterangan

1

Ya

27

96.43

2

Tidak

0

0

3

Ragu

1

3.57

Menurut hasil kuisioner dari tabel di atas dapat diketahui bahwa 27 responden dengan persentase 96,43 % yang menyatakan ya, 0 responden yang mengatakan tidak, dan 1 hanya responden dengan persentase 3,57% menyatakan ragu. Hal ini menunjukkan bahwa bergotong royong dapat menjalin hubungan silaturahim antara sesama masyarakat.

Tabel 5

Adanya perintah khusus dari pihak pemerintah untuk melakukan kegiatan gotong royong

No

Jawaban Responden

Frekuensi

Persen(%)

Keterangan

1

Ya

10

35.71

2

Tidak

11

39.29

3

Ragu

7

25

Menurut hasil kuesioner dari tabel diatas dapat diketahui bahwa 10 responden dengan persentasi 35,71% yang menyatakan ya, 11 responden dengan persentase 39,29 % yang mengatakan tidak, dan 7 responden dengan persentasi 25 % yang mengatakan ragu. Hal ini menunjukan bahwa pemerintah jarang melakukan perintah khusus kepada warga masyarakat.

Tabel 6

Kegiatan gotong royong dapat membuat pembangunan di Bulukumba maju

No

Jawaban Responden

Frekuensi

Persen(%)

Keterangan

1

Ya

28

100

2

Tidak

0

0

3

Ragu

0

0

Menurut hasil kuesioner dari tabel di atas dapat dapat diketahui bahwa semua responden yang berjumlah 28 responden menyatakan ya, dengan persentase 100%. Hal ini kegiatan gotong royong dapat membuat pembangunan di Bulukumba menjadi lebih maju.

Tabel 7

Dapat menghayati nilai-nilai yang terdapat dalam budaya gotong royong

No

Jawaban Responden

Frekuensi

Persen(%)

Keterangan

1

Ya

28

100

2

Tidak

0

0

3

Ragu

0

0

Menurut hasil kuesioner dari tabel di atas dapat diketahui bahwa semua responden yang berjumlah 28 responden menyatakan ya, dengan persentase 100%. Hal ini menunjukkan bahwa semua responden dapat menghayati nilai-nilai yang terdapat dalam budaya gotong royong.

Tabel 8

Kegiatan gotong royong rutin dilaksanakan di Kota Bulukumba

No

Jawaban Responden

Frekuensi

Persen(%)

Keterangan

1

Ya

13

46.43

2

Tidak

10

35.71

3

Ragu

5

17.86

Menurut hasil kuesioner dari tabel di atas dapat diketahui bahwa 13 responden dengan persentase 46,43% yang menyatakan ya,10 responden menyatakan tidak dengan persentasi 35,71% dan 5 responden menyatakan ragu dengan persentase 17,86%. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan gotong royong kurang rutin dilaksanakan di Bulukumba maju.


Tabel 9

Terdapat kegiatan gotong royog pada acara perkawinan di Kota Bulukumba

No

Jawaban Responden

Frekuensi

Persen(%)

Keterangan

1

Ya

22

78.57

2

Tidak

1

3.57

3

Ragu

5

17.86

Menurut hasil kuesioner dari tabel di atas dapat diketahui bahwa 22 responden dengan persentase 78,57% yang menyatakan ya, hanya 1 responden menyatakan tidak dengan persentasi 3,57% dan 5 responden menyatakan ragu dengan persentase 17,86%. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan gotong royong pada acara perkawinan cukup banyak dilaksanakan di Kota Bulukumba.

Tabel 10

No

Jawaban Responden

Frekuensi

Persen(%)

Keterangan

1

Ya

24

85.71

2

Tidak

1

3.57

3

Ragu

3

10.71

Gotong royong masih dibutuhkan pada era modern. Menurut hasil kuesioner dari tabel di atas dapat diketahui bahwa 24 responden dengan persentase 85,71% yang menyatakan ya, hanya 1 responden menyatakan tidak dengan persentasi 3,57% dan 3 responden menyatakan ragu dengan persentase 10,71%. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan gotong royong masih dibutuhkan pada era modern ini.

Tabel 11

Pemerintah perlu membuat peraturan perundang-undangan tentang kegotong

No

Jawaban Responden

Frekuensi

Persen(%)

Keterangan

1

Ya

17

60.71

2

Tidak

4

14.29

3

Ragu

7

25

Menurut hasil kuesioner dari tabel di atas dapat diketahui bahwa 17 responden dengan persentase 60,71% yang menyatakan ya, 4 responden menyatakan tidak dengan persentasi 3,57 dan 7 responden menyatakan ragu dengan persentase 25%. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan gotong royong masih dibutuhkan pada era modern ini.

Tabel 12

Pemerintah memiliki program kegiatan gotong royong secara rutin dilaksanakan

No

Jawaban Responden

Frekuensi

Persen(%)

Keterangan

1

Ya

10

35.71

2

Tidak

7

25

3

Ragu

11

39.29

Menurut hasil kuesioner dari tabel di atas dapat diketahui bahwa 10 responden dengan persentase 35,71% yang menyatakan ya, 7 responden menyatakan tidak dengan persentasi 25% dan 11 responden menyatakan ragu dengan persentase 39.29%. Hal ini menunjukkan bahwa pada saat ini pemerintah harus memiliki program kegiatan gotong royong secara rutin.

Tabel 13.

Semua elemen atau lapisan masyarakat harus berpartisipasi dalam kegiatan gotong royong

No

Jawaban Responden

Frekuensi

Persen(%)

Keterangan

1

Ya

26

92.86

2

Tidak

0

0

3

Ragu

2

7.14

Menurut hasil kuesioner dari tabel di atas dapat diketahui bahwa 26 responden dengan persentase 92.86% yang menyatakan ya, tidak ada responden menyatakan tidak dan 2 responden menyatakan ragu dengan persentase 7.14%. Hal ini menunjukkan bahwa semua elemen atau lapisan masyarakat harus berpatisipasi dalam kegiatan gotong royong.

Tabel 14

Pada hari libur saja gotong royong dapat dilaksanakan

No

Jawaban Responden

Frekuensi

Persen(%)

Keterangan

1

Ya

9

32.14

2

Tidak

18

64.29

3

Ragu

1

3.57

Menurut hasil kuesioner dari tabel di atas dapat diketahui bahwa 9 responden dengan persentase 32.14% yang menyatakan ya, 18 responden menyatakan tidak dengan persentase 64.29% dan 1 responden menyatakan ragu dengan persentase 3.57%. Hal ini menunjukkan bahwa tidak selamanya kegiatan gotong royong itu dilakukan pada hari libur.

Tabel 15

Budaya gotong royong bermanfaat untuk dilestarikan kepada generasi akan datang

No

Jawaban Responden

Frekuensi

Persen(%)

Keterangan

1

Ya

28

100

2

Tidak

0

0

3

Ragu

0

0

Menurut hasil kuesioner dari tabel di atas dapat diketahui bahwa 28 responden dengan persentase 100% yang menyatakan ya,. Hal ini menunjukkan bahwa budaya gotong royong bermanfaat untuk dilestarikankepada generasi yang akan datang.

Tabel 16

Budaya gotong royong dapat bertahan di era globalisasi

No

Jawaban Responden

Frekuensi

Persen(%)

Keterangan

1

Ya

8

28.57

2

Tidak

3

10.71

3

Ragu

17

60.71

Menurut hasil kuesioner dari tabel di atas dapat diketahui bahwa 8 responden dengan persentase 28.57% yang menyatakan ya, 3 responden menyatakan tidak dengan persentase 10.71% dan 17 responden menyatakan ragu dengan persentase 60.71 %. Hal ini menunjukkan bahwa sebahagian masyarakat meragukan bertahannya budaya gotong royong di era globalisasi.

B. Pembahasaan

Dari analisis data menunjukkan gotong royong di kalangan masyarakat perkotaan masih dianggap penting untuk mempererat hubungan silaturahmi, dan meringankan beban. Namun pada era globalisasi, masyarakat semakin maju dan memiliki aktivitas yang berbeda dan serba sibuk.

Berdasarkan penelitian kami, masyarakat Bulukumba khususnya daerah perkotaan masih sadar akan pentingnya gotong royong,misalnya dalam acara pernikahan, pembersihan lingkungan sekitar, dll.


BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Dari hasil penelitian dan pembahasaan dapat disimpulkan bahwa:

1. Masyarakat Bulukumba khususnya masyarakat perkotaan masih memerlikan kegiatan gotong royong.

2. Adapun bentuk- bentuk dari kegiatan gotong royong yang sering kita temukan dalam kehidupan sehari- hari, antara lain:

Ø Acara pada perkawinan

Ø Membersihkan lingkungan sekitar

Ø Membangun fasilita- fasilitas umum, dll.

B. Saran

Adapun saran yang ingin kami sampaikan yaitu:

1. Dari hasil penelitian, kami mengharapkan agar masyarakat dapat meningkatkan kesadarannya dalam kegiatan bergotong royong.

2. Kami mengharapkan dari pemerintah agar mengeluarkan Perda yang mengatur tentang kegiatan pergotong royongan . Karena kegiatan gotong royong ini sudah mulai terkikis di era modern sekarang ini.

3. Kami berharap agar penelitian ini dilanjutkan atau digali secara lebih dalam dan meluas.


DAFTAR PUSTAKA

Andrain, Harles 1992. Kehidupan Politik dan Perubahan Sosial. Tiara Wacana : Yogyakarta.

Ditjen Diknasmen .2004. Pelajaran Pengetahuan Sosial Kelas IX . Depdiknas: Jakarta.

Louer, H. Robert. 1993. Perspektif Tentang Perubahan Sosial. Rineka Cipta: Jakarta.


LEMBAR PENGESAHAN

Karya Ilmiah yang berjudul

IMPLEMENTASI PERILAKU GOTONG ROYONG DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT PERKOTAAN

BULUKUMBA

Telah dibaca dan disetujui pada 5 Mei 2007

Oleh

Pembimbing I Pembimbing II

……………………………. ……………………………..

INSTRUMEN PENELITIAN

IMPLEMENTASI PERILAKU

GOTONG ROYONG DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT PERKOTAAN BULUKUMBA

Biodata Responden

Nama :

Jenis Kelamin :

Pekerjaan :

Usia :

Tingkat pendidikan:

Petunjuk

1. Instrumen ini dimaksudkan untuk mengumpulkan data mengenai topik di atas. Bapak/Ibu diharapkan dapat menjawab pertanyaan apa adanya sesuai dengan kondisi yang sebenarnya.

2. Jawablah pertanyaan dengan memberi tBapak/Ibu silang (X) pada opsi jawaban yang disediakan.

Daftar Pertanyaan

1. Menurut Bapak/Ibu apakah masyarakat Bulukumba gemar bergotong royong?

a.ya b.tidak c.Ragu

2. Apakah pemerintah ikut juga bergotong royong ?

a.ya b.tidak c.Ragu

3. Pentingkah gotong royong itu dalam kehidupan sehari-hari?

a.ya b.tidak c.Ragu

4. Apakah bergotong royong itu dapat menjalin silaturrahim antar keluarga, masyarakat ?

a.ya b.tidak c.Ragu

5. Apakah ada perintah khusus dari pihak pemerintah untuk melakukan kegiatan gotong royong?

a.ya b.tidak c.Ragu

6. Apakah kegiatan gotong royong dapat membuat pembangunan di Bulukumba lebih maju ?

a.ya b.tidak c.Ragu

7. Apakah Bapak/Ibu dapat menghayati nilai yang terdapat dalam budaya gotong royong?

a.ya b.tidak c.Ragu

8. Apakah kegiatan gotong royong rutin dilaksanakan di Kota Bulukumba?

a.ya b.tidak c.Ragu

9. Apakah gotong royong masih ditemukan pada acara kegiatan perkawinan di kota Bulukumba ?

a.ya b. tidak c.Ragu

10. Apakah gotong royong itu masih dibutuhkan pada era modern ?

a.ya b.tidak c.Ragu

11. Apakah pemerintah perlu membuat peraturan perundang-undangan tentang

kegotong royongan?

a.ya b.tidak c.Ragu

12. Apakah pemerintah memiliki program kegiatan gotong royong yang secara rutin dilaksanakan?

a. ya b. tidak c.Ragu

13. Apakah semua elemen masyarakat harus berpartisipasi dalam kegiatan gotong royong ?

a. ya b. tidak c.Ragu

14. Apakah pada hari libur saja gotong royong dapat dilakukan ?

a. ya b. tidak c.Ragu

15. Apakah budaya gotong royong bermanfaat untuk dilestarikan kepada generasi yang akan datang ?

a. ya b. tidak c.Ragu

16. Apakah budaya gotong royong dapat bertahan dalam era globalisasi?

a. ya b. tidak c.Ragu


Linguistik Indonesia

Kebangkitan Lingustik Indonesia

 

 Oleh

MUHAMMAD HASRI

 

Kebangkitan linguistik Indonesia tidak terlepas dari jasa sejumlah tokoh. Mereka ini terdiri atas sarjana Barat dan sarjana Pribumi.

Dua hal yang patut mendapat perhatian dalam mengulas kebangkitan linguistik Indonesia, yaitu karya yang dihasilkan oleh sederet tokoh dan pemikiran linguistik yang mereka letakkan yang menyebabkan terpicunya perkembangan linguistik Indonesia. Karya para tokoh tersebut disajikan dalam sebuah tabel dan pemikiran mereka disajikan dalam bentuk uraian.

 

Tokoh dan Karya Pemicu Kebangkitan Linguistik Indonesia

Diurut Berdasarkan Tahun Buku

NO

NAMA

TAHUN BUKU

JUDUL TULISAN

1

Joannes Roman

1653

Grond ofte Kort Berich van de Malaysche Tale, Vervat in Twee Deelen: Het eerste handelende van de Letters ende Haren aenhangh, Het Andere, van de deelen eener Redene

2

George Henrik Werndly

1736

Maleische Spraakkuntst

3

William Marsden

1812

A Grammar of the Malayan Language

4

John Crawfurd

1852

A Grammar and Dictionary of the Malay Language

5

Raja Ali Haji

1857 dan 1859

Bustanul Katibin

 

Kitab Pengetahuan Bahasa

6

J.J. de Hollander

1882

Handleiding bij de Boefening der Maleische Taal en Letterkunde

7

Gerth van Wijk

1889

Spraakleer der Maleische Taal

8

Koewatin Sasrasoeganda

1910

Kitab jang Menyatakan Djalan Bahasa Melajoe

9

Ch. Van Ophujsen

1915

Maleische Spraakkunst

10

R. O.  Winsted

1914

Malay Grammar

11

Zainal ‘Abidin bin Ahmad (Za’ba)

1940

Pelita Bahasa Melayu

12

Soetan Moehammad Zain

1943

Djalan Bahasa Indonesia

13

S. Takdir Alisjahbana

1953

Tata Bahasa Baru Bahasa Indonesia

14

Madong Lubis

1954

Paramasastra Lanjut

15

I. R. Poedjawijatna dan P.J. Zoetmulder

1955

Tata Bahasa Indonesia

16

C. A. Mess

1957

Tatabahasa Indonesia

17

Slametmuljana

1957

Kaidah Bahasa Indonesia

18

Teeuw

1961

Critical Survey of Studies on Malay and Bahasa Indonesia

19

E. M. F. Payne

1964

Basic Syntactic Structures in Standar Malay

20

Ramlan

1964

 

1985

Tipe-tipe Konstruksi Frase dalam Bahasa Indonesia

Tata Bahasa Indonesia, Penggolongan Kata

21

Anton M. Moeliono

1967

Suatu Reorientasi dalam Tata Bahasa Indonesia

22

Gorys Keraf

1969

Tatabahasa Indonesia

23

S. Wojowasito

1978

Ilmu Kalimat Strukturil

24

Samsuri

1985

Tata Kalimat Bahasa Indonesia

 

            Keduapuluh empat linguis di atas membentangkan gagasan dengan silang pendapat yang sangat menarik. Perbedaan filosofi kajian mereka terekam dalam pembahasan mengenai kelas kata yang mereka lakukan. Keduapuluh empat linguis tersebut membagi kelas kata bahasa Indonesia secara bervariasi. Jumlah kelas kata yang paling sedikit dilakukan oleh Samsuri (1985) yang hanya membagi kelas kata bahasa Indonesia atas dua kelas saja dan jumlah kelas kata yang paling banyak dilakukan oleh Ramlan (1985) yang membagi kelas kata bahasa Indonesia atas 12 kelas kata. Kridalaksana (1986) secara memadai menyajikan bahasan mengenai silang pendapat kelas kata bahasa Indonesia yang pernah dituliskan oleh ke dua puluh empat linguis di atas.

            Ada  beberapa filosofi berpikir yang berkembang pada perkembangan awal kajian linguistik Indonesia. Kridalaksana (1986: 9 – 26) membaginya ke dalam empat kategori, yaitu pandangan yang mengacu ke (1) tatabahasa pedagogis, (2) tatabahasa teknis, (3) tatabahasa modern, dan (4) tatabahasa pedagogis yang berorientasi linguistis. Empat kategori ini dapat dirinci menjadi dua garis besar saja, yaitu tatabahasa pedagogis yang berorientasi ke tatabahasa tradisional dan tata bahasa teknis yang menjadikan struktural sebagai pijakan analisis.

            Tatabahasa pedagogis merupakan kajian linguistik yang bertujuan mempelajari suatu bahasa untuk keperluan penguasaan bahasa tersebut agar dapat digunakan dalam berkomunikasi dengan orang lain baik dengan penutur asli maupun dengan penutur asing. Tata bahasa pedagogis merupakan pelengkap dari pengajaran bahasa. Pada perkembangan awal kajian linguistik secara pedagogik dilakukan oleh kaum penjajah untuk memperkukuh kekuasaannya dan oleh kaum misionaris nasrani dan muslim untuk menyebarkan agamanya.

Ada dua kelompok tatabahasa pedagogis, kelompok pertama mereka yang menelaah bahasa ini secara nonformal untuk tujuan mempelajari bahasa Melayu dengan maksud ingin berintegrasi dengan masyarakat nusantara. Kelompok kedua,  mereka yang mulai menyusun tatabahasa dengan maksud diajarkan secara formal kepada orang lain. Kedua kelompok ini umumnya dipelopori oleh linguis Belanda. Kajian linguistiknya didasarkan pada telaah yang telah dilakukan terhadap bahasa Belanda. Kajian ini mengacu kepada tatabahasa tradisional sesuai pandangan Aristoteles terutama dalam hal kelas kata. Mereka mengkaji bahasa berdasarkan makna yang bersifat normatif dan tidak terlalu peduli terhadap bentuk. Hal ini terlihat jelas dalam kelas kata yang mereka buat.

Kridalaksana (1986: 10 – 18) menyebutkan sejumlah nama yang tergolong ke dalam penelaah tatabahasa pedagogis ini antara lain Joannes Roman (1653), George Henrik Werndly (1736), William Marsden (1812), John Crawfurd (1852), Raja Ali Haji (1857 dan 1859), J.J. de Hollander (1882), Gerth van Wijk (1889), Koewatin Sasrasoeganda (1910), Ch. Van Ophujsen (1915), R. O.  Winsted (1914), Soetan Moehammad Zain (1943), Sutan Takdir Alisjahbana (1953), Madong Lubis (1954), I.R. Poedjawijatna dan P. J. Zoetmulder (1955), dan C. A. Mess (1957). Sejak dari Joanes Roman (1653) sampai dengan John Crawfurd (1852) telaah tatabahasa pedagogis dilakukan dengan tujuan ingin menguasai bahasa Melayu dan menggunakannya secara langsung ke penutur bahasa Melayu di Nusantara untuk memenuhi kebutuhan mereka. Hasil telaah ini dipelajari secara nonformal oleh komunitas Belanda yang bertugas di Indonesia. Mulai pada masa Raja Ali Haji (1857) hingga masa C. A. Mess (1957) tatabahasa pedagogis ini dipelajari secara formal baik melaui bangku sekolah maupun dalam kursus-kursus bahasa.

Di antara linguis tatabahasa pedagogis ini Kridalaksana (1986:14) menyebutkan bahwa Koewatin Sasrasoganda (1910) adalah  linguis pribumi pertama yang menulis tatabahasa Melayu dalam bahasa Melayu dengan tradisi Yunani-Latin-Belanda. Kridalaksana menggelarinya sebagai Bapak Tata Bahasa Tradisional.

 Kategori kedua adalah tata bahasa teknis. Tata bahasa ini berusaha untuk memahami bahasa dengan memanfaatkan teori dan metode linguistik. Linguis sudah mulai menggunakan kriteria yang jelas dalam penelaahan bahasa. Linguis yang digolongkan ke dalam kategori ini adalah Slametmuljana (1957), Anton M. Moeliono (1967), S. Wojowasito (1978). M. Ramlan (1985), dan Samsuri (1985).

Slamemuljana (1957) menelaah bahasa Indonesia dengan menggunakan analisis fungsionalistis, yaitu analisis yang menekankan kepada fungsi gramatika dalam telaah kalimat. Slametmuljana mulai mengenalkan gatra, seperti gatra sebutan untuk subjek, gatra pangkal untuk predikat. Telaah ini menekankan kepada fungsi kalimat. Kepulangan Anton M. Moeliono dari Amerika Serikat memicu perkembangan besar linguistik Indonesia. Chaer (2007:378) menyatakan bahwa Anton M. Moeliono dan T. W. Kamil yang baru saja pulang dari Amerika Serikat, keduanya adalah orang yang pertama kali mengenalkan konsep fonem, morfem, frasa dan klausa dalam pendidikan formal linguistik di Indonesia. Sebelumnya yang dikenal hanya kata dan kalimat.

Kehadiran M. Ramlan (1985) dengan tatabahasa struktural dan Samsuri (1985) dengan tatabahasa generatif membangkitkan linguistik Indonesia menjadi sebuah kajian yang menarik perhatian. Konsep struktural Ferdinan de Saussure disusul  oleh strukturalisme Bloomfield dan teori transformasi Chomsky mulai bergema di berbagai perguruan tinggi. Kajian Keraf dan Kajian Verhaar terhadap bahasa Indonesia melengkapi kebangkitan telaah linguistik Indonesia. (Hasri:\D\Tugas Kuliah\Kebangkitan Linguistik Indonesia)

 

Kepustakaan

Alisjahbana, S. T. A.

1988          Revolusi Masyarakat dan Kebudayaan Indonesia. Jakarta: Dian

Rakyat.

Asy’ari (Editor)

2008          Manusia Renaissance Relevansi Pemikiran Sutan Takdir

Alisjahbana. Jakarta: Dian Rakyat.

Chaer, A.

            2007     Linguistik Umum. Jakarta: PT Rineka Cipta

Keraf, G.

1970          Tatabahasa Indonesia. Ende-Flores: Nusa Indah.

Kridalaksana, H.

            1986     Kelas Kata dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Gramedia.

SAIN DAN TEORI

EKSPLORASI PEMIKIRAN TENTANG SAIN DAN TEORI

oleh Muhammad Hasri

Widyaiswara LPMP Sulsel

  1. Pembuka

Periode perkembangan filsafat Yunani merupakan entri poin untuk memasuki perdaban baru manusia. Pada periode ini terjadi perubahan pola pikir manusia dari motosentris menjadi logosentris. Manusia yang dahulunya fasif dalam menghadapi fenomena alam menjadi lebih proaktif dan kreatif, sehingga alam dijadikan objek penelitian dan pengkajian. Dari proses ini ilmu kemudian berkembang yang membuahkan hasil dalam bentuk teknologi.

Kreativitas manusia terus berkembang. Pertentangan demi pertentangan dihasilkan. Silang pendapat mengenai sudut pandang terhadap suatu objek terus berkembang. Dalam alam kefilsafatan dikenali pemikiran empirisme yang materialistis dan pemikiran rasionalisme yang mendewakan pemikiran. Dua sudut pandang yang berbeda ini melahirkan sejumlah cabang pemikiran yang ruwet yang terus menerus diperdebatkan oleh para ahli.

Dengan berorientasi kepada kausalitas kejadian pada sejumlah fenomena alam, sains mengalami perkembangan yang pesat. Kerangka konseptual terus menerus dibangun menuju ke penyempurnaan teori. Hasilnya dalam bentuk penguatan, pembantahan, dan atau temuan baru.

Tulisan ini dimaksudkan untuk membahas mengenai sains dan teori sebab kedua persoalan ini menempati andil yang sangat besar dalam pencapaian kemajuan teknologi dewasa ini.

  1. Ilmu dan Pengetahuan

Ilmu dan pengetahuan merupakan dua istilah yang berbeda. Soetriono dan SRDm Rita Hanafie (2007: 140) mengemukakan bahwa ilmu adalah pengetahuan tetapi tidak semua pengetahuan adalah ilmu. Pengetahuan adalah pembentukan pemikiran asosiatif yang menghubungan atau menjalin sebuah pikiran dengan kenyataan atau dengan pikiran lain berdasarkan pengalaman yang berulang-ulang tanpa pemahaman mengenai kausalitas yang hakiki dan universal. Ilmu adalah akumulasi pengetahuan yang menjelaskan kausalitas dari suatu objek menurut metode tertentu yang merupakan suatu kesatuan sistematis.

Penjelasan di atas menunjukkan bahwa pengetahuan bukan hanya ilmu. Pengetahuan merupakan bahan utama bagi ilmu. Pengetahuan tidak menjawab pertanyaan mengenai suatu kenyataan sebagaimana dapat dijawab oleh ilmu. Pengetahuan baru dapat menjawab tentang apa, sedangkan ilmu dapat menjawab pertanyaan tentang mengapa dari suatu kenyataan atau kejadian.

Ilmu berusaha memahami alam sebagaimana adanya. Hasil kegiatan keilmuan merupakan alat untuk memprediksi dan mengontrol gejala-gejala alam. Pengetahuan keilmuan merupakan sari penjelasan mengenai kejadian-kejadian alam yang bersifat umum dan impersonal.

Bakhtiar (2007: 87) mengemukakan bahwa ilmu pada prinsipnya merupakan usaha untuk mengorganisasikan dan mensistematisasikan common sense yang berasal dari pengalaman sehari-hari yang dilanjutkan dengan pemikiran secara cermat dan teliti dengan menggunakan berbagai metode.

Ilmu dapat merupakan suatu metode berpikir secara objektif, bertujuan menggambarkan dan memberi makna terhadap dunia faktual. Ilmu diperoleh melalui observasi, eksperimen, dan klasifikasi. Ilmu bersifat objektif (tidak subjektif), bersifat netral, menyampingkan unsur pribadi, dan mengutamakan pemikiran logika. Ilmu dimulai dengan fakta dan dimiliki manusia secara komprehensif (Bakhtiar, 1997: 88).

Selanjutnya, terdapat sejumlah pengertian yang mencerminkan indikasi sebuah ilmu.
Ilmu adalah pengetahuan yang bersifat umum dan sistematis, pengetahuan dari mana dapat disimpulkan dalil-dalil tertentu menurut kaidah-kaidah umum. (Nazir, 1988). Konsepsi ilmu pada dasarnya mencakup tiga hal, yaitu adanya rasionalitas, dapat digeneralisasi dan dapat disistematisasi (Shapere, 1974)
Pengertian ilmu mencakup logika, adanya interpretasi subjektif dan konsistensi dengan realitas sosial (Schulz, 1962)
Ilmu tidak hanya merupakan satu pengetahuan yang terhimpun secara sistematis, tetapi juga merupakan suatu metodologi (Tan, 1954)

Dari sejumlah pengertian di atas dapatlah disimpulkan bahwa ilmu pada dasarnya adalah pengetahuan tentang sesuatu hal atau fenomena, baik yang menyangkut alam atau sosial (kehidupan masyarakat), yang diperoleh manusia melalui proses berfikir. Itu artinya bahwa setiap ilmu merupakan pengetahun tentang sesuatu yang menjadi objek kajian dari ilmu terkait.

  1. Sifat-sifat dan Asumsi Dasar Ilmu

Ilmu bertujuan menjelaskan segala yang ada di alam semesta ini. Untuk menjelaskan itu ilmu memiliki sifat dan asumsi dasar. Perkembangan ilmu didasarkan atas sifat dan asumsi dasar tersebut.

Ada tiga sifat dasar yang melekat pada ilmu. Soetriono dan SRDm Rita Hanafie (2007: 140) mengemukakan bahwa ada tiga sifat dasar ilmu: (1) ilmu menjelajah dunia empirik tanpa batas sejauh dapat ditangkap oleh panca indera (dan indera yang lain), (2) tingkat kebenarannya relatif dan tidak sampai kepada tingkat kebenaran yang mutlak, (3) ilmu menemukan proposisi-proposisi (hubungan sebab akibat) yang teruji secara empirik.

Mengacu kepada tiga sifat-sifat dasar di atas, dapat dikemukakan tiga asumsi dasar ilmu. Ketiga asumsi itu adalah (1) dunia ini ada (manipulable), (2) fenomena yang ditangkap oleh indera manusia berhubungan satu sama lain, (3) percaya akan kemampuan indera yang menangkap fenomena itu, dan (4) ilmu adalah pengetahuan yang sistematik.

Ilmu identik dengan dunia ilmiah, karenanya ilmu mengindikasikan tiga ciri, yaitu lmu harus merupakan suatu pengetahuan yang didasarkan pada logika, terorganisasikan secara sistematis, dan berlaku secara umum.

  1. Komponen Pembangun Ilmu

Komponen ilmu yang hakiki adalah fakta dan teori. Komponen lainnya adalah fenomena dan konsep Soetriono dan SRDm Rita Hanafie (2007: 142).

Fenomen yang ditangkap oleh indera manusia dibastaraksikan dengan sejumlah konsep. Konsep merupakan simbol-simbol yang mengandung pengertian singkat dari fenomena. Jadi, konsep merupakan penyederhanaan dari fenomena.

Konsep yang semakin mendasar akan sampai pada variabel. Variabel merupakan sifat atau jumlah yang mempunyai nilai kategorial, baik kualitatif maupun kuantitatif. Semakin berkembang suatu ilmu semakin berkembang pula konsep-konsepnya untuk sampai kepada variabel-variabel dasar.

Melalui penelaahan yang terus menerus, ilmu akan sampai pada hubungan-hubungan yang merupakan hasil akhir dari ilmu. Hubungan-hubungan yang didukung oleh data empirik disebut fakta. Ilmu merupakan fakta dan jalinan fakta secara utuh membentuk teori.

  1. Konseptual Teori

Sejumlah ahli telah mengulas konsep yang terkandung dalam istilah teori. Secara umum istilah teori mengandung beberapa pengertian, yaitu teori adalah abstraksi dari realitas.
Teori terdiri atas sekumpulan prinsip dan defenisi yang secara konseptual mengorganisasikan aspek-aspek dunia empiris secara sistematis. Teori terdiri dari asumsi-asumsi, proposisi-proposisi, dan aksioma-aksioma dasar yang saling berkaitan.
Teori terdiri atas teorema-teorema yakni generalisasi-generalisasi yang diterima/terbukti secara empiris. Tegasnya, teori pada dasarnya merupakan konseptualisasi atau penjelasan logis dan empirik tentang suatu fenomena. Bentuknya merupakan pernyataan-pernyataan yang berupa kesimpulan tentang suatu fenomena.

Teori memiliki dua ciri umum: (1) semua teori adalah abstraksi tentang sesuatu hal, yang berarti suatu teori bersifat terbatas. (2) Semua teori adalah konstruksi ciptaan individual manusia. Oleh karena itu, sifatnya relatif dalam arti tergantung pada cara pandang si pencipta teori, sifat dan aspek yang diamati, serta kondisi-kondisi lain yang mengikat seperti waktu, tempat dan lingkungan sekitarnya (Mulyana, 2008).

Lebih lanjut Soetriono dan SRDm Rita Hanafie (2007: 142) mengemukakan bahwa teori adalah seperangkat konsep, definisi, dan proposisi-proposisi yang berhubungan satu sama lain yang menunjukkan fenomena secara sistematis dan bertujuan untuk menjelaskan dan meramalkan fenomen-fenomena. Hal ini menunjukkan bahwa teori bukan suatu spekulasi melainkan suatu konstruksi yang jelas yang dibangun atas jalinan fakta-fakta.

Terdapat jalinan yang kuat antara fakta dengan teori. Fakta mempunyai peran dalam pijakan, formulasi, dan penjelasan teori. Soetriono dan SRDm Rita Hanafie (2007: 142) merinci keterkaitan keduanya sebagai yang berikut.

a. fakta memulai teori: teori berpijak pada satu – dua fakta hasil penemuan, kadang-kadang tidak disengaja.

b. Fakta menolak dan mereformasi teori yang telah ada: bila ada fakta yang belum terlejaskan oleh teori, kita dapat menolak atau pun mereformasi teori itu sedemikian rupa sehingga dapat terjelaskan fakta tersebut.

c. Facts redefine and clarify theory: fakta dapat mendefinisikan atau memperjelas kembali definisi-definisi yang ada dalam teori.

Salah satu hal penting yang perlu dikemukakan adalah bagaimana strategi yang digunakan dalam melakukan penjelasan terhadap suatu teori. Penjelasan dalam teori tidak hanya menyangkut penyebutan nama dan pendefenisian variable-variabel, tetapi juga mengidentifikasikan keberaturan hubungan di antara variabel. Menurut Litlejohn (1987 dalam Mulyana, 2008:5), penjelasan dalam teori berdasarkan pada prinsip keperluan (the principle of necessity) yakni suatu penjelasan yang menerangkan variable-variabel apa yang mungkin diperlukan untuk menjelaskan atau menghasilkan sesuatu. Misalnya untuk menghasilkan variabel X, mungkin diperlukan variable Y dan Z. selanjutnya dijelaskan pula bahwa prinsip ini terdiri atas tiga macam, yaitu: (1) causal necessity (keperluan kausal). Berdasarkan pada azas sebab-akibat. Misalnya karena ada X dan Z maka ada Y. (2) practical necessity (keperluan praktis). Mengacu pada hubungan tindakan-konsekuensi. Menurut prinsip ini X dan Z memang bertujuan untuk, atau praktis untuk menghasilkan Y. (3) logical necessity (keperluan logis). Prinsip ini berdasarkan asas konsistensi logis. Artinya X dan Z secara konsisten dan logis akan selalu menghasilkan Y.

  1. Peran Teori dalam Pengembangan Ilmu

Littlejohn (dalam Mulayana, 2008:3) menyatakan 9 fungsi dari teori:

    1. mengorganisasikan dan menyimpulkan pengetahuan tentang suatu hal. Hal ini berarti bahwa dalam mengamati realitas kita tidak boleh melakukan secara sepotong-sepotong. Kita perlu mengorganisasikan dan mensintesiskan hal-hal yang terjadi dalam kehidupan nyata. Pola-pola dan hubungan-hubungan harus dapat dicari dan ditemukan. Pengetahuan yang diperoleh dari pola atau hubungan itu kemudian disimpulkan. Hasilnya (berupa teori) akan dapat dipakai sebagai rujukan atau dasar bagi upaya-upaya studi berikutnya.
    2. Memfokuskan, teori pada dasarnya menjelaskan tentang sesuatu hal, bukan banyak hal.
    3. Menjelaskan, teori harus mampu membuat suatu penjelasan tentang hal yang diamatinya. Misalnya mampu menjelaskan pola-pola hubungan dan menginterpretasikan peristiwa-peristiwa tertentu.
    4. Pengamatan, teori tidak sekedar memberi penjelasan, tetapi juga memberikan petunjuk bagaimana cara mengamatinya, berupa konsep-konsep operasional yang akan dijadikan patokan ketika mengamati hal-hal rinci yang berkaitan dengan elaborasi teori.
    5. Membuat predikasi, meskipun kejadian yang diamati berlaku pada masa lalu, namun berdasarkan data dan hasil pengamatan ini harus dibuat suatu perkiraan tentang keadaan yang bakal terjadi apabila hal-hal yang digambarkan oleh teori juga tercermin dalam kehidupan di masa sekarang.
    6. Fungsi heuristik atau heurisme, artinya bahwa teori yang baik harus mampu merangsang penelitian selanjutnya. Hal ini dapat terjadi apabila konsep dan penjelasan teori cukup jelas dan operasional sehingga dapat dijadikan pegangan bagi penelitian-penelitian selanjutnya.
    7. Komunikasi, teori tidak harus menjadi monopoli penciptanya. Teori harus dipublikasikan, didiskusikan dan terbuka terhadap kritikan-kritikan, yang memungkinkan untuk menyempurnakan teori. Dengan cara ini maka modifikasi dan upaya penyempurnaan teori akan dapat dilakukan.
    8. Fungsi kontrol yang bersifat normatif. Asumsi-asumsi teori dapat berkembang menjadi nilai-nilai atau norma-norma yang dipegang dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain, teori dapat berfungsi sebagai sarana pengendali atau pengontrol tingkah laku kehidupan manusia.
    9. Generatif, fungsi ini terutama menonjol di kalangan pendukung aliran interpretif dan kritis. Menurut aliran ini, teori juga berfungsi sebagai sarana perubahan sosial dan kultural serta sarana untuk menciptakan pola dan cara kehidupan yang baru.

Selain kesembilan peran teori di atas Soetriono dan SRDm Rita Hanafie (2007: 143) mengemukakan peran teori dalam pengembangan ilmu. Ada lima peran yang mereka kemukakan, yaitu

a. Teori sebagai orientasi: ilmuwan dapat mempersempit cakupan yang akan ditelaah.

b. Teori sebagai konseptual dan klasifikasi: dapat memberikan petunjuk tentang kejelasan hubungan antara konsep-konsep dan fenomena atas dasar klasifikasi tertentu.

c. Teori sebagai generalisasi: memberikan rangkuman terhadap generalisasi empirik dan antar hubungan dari berbagai proposisi.

d. Teori sebagai peramal fakta: membuat prediksi tentang adanya fakta dengan cara membuat ekstrapolasi dari yang sudah diketahui kepada yang belum diketahui.

e. Theory points to gap in our knowledge: menunjukkan adanya kesenjangan dalam pengetahuan kita. Ahli teori tidak dapat secara lengkap menyusun teori yang telah menjadi pengetahuan. Tebuka kesempatan untuk menutupi kesenjangan melalui melengkapi, menjelaskan, dan mempertajam.

  1. Pengembangan Teori dan Pengujian Teori

Proses pengembangan atau pembentukan teori umumnya mengikuti model pendekatan eksperimental yang lazim digunakan dalam ilmu pengetahuan alam. Pendekatan ini disebut Hyphotetif-deductive method, proses pengembangan teori melibatkan empat tahap:

(1) developing questions (mengembangkan pertanyaan),

(2) forming hyphotheses (membentuk hipotesis)

(3) testing the hyphotheses (menguji hipotesis), dan

(4) formulating theory (memformulasikan theory)

Pengembangan teori dapat dilakukan melalui siklus empirik. Siklus empirik diper oleh melalui sejumlah tahapan. Pertama, asumsi-asumsi teori dideduksi menjadi hipotesis. Asumsi disusun berdasarkan suatu teori yang kemudian digunakan sebagai landasan pikir dalam menganalisa suatu fenomena yang menjadi objek pengamatan kita. Hipotesa merupakan asumsi atau dugaan sementara terhadap hal yang diamati yang berupa suatu pernyataan yang terdiri dari sejumlah konsep atau variabel. Kedua, hipotesis dirinci lagi ke dalam konsep-konsep operasional (variabel) yang dapat dijadikan sebagai patokan untuk pengamatan/observasi. Berdasarkan itu dibuat parameter penelitian dan instrumen penelitian, contohnya quesioner. Ketiga, hasil-hasil temuan dari pengamatan yang dilakukan melalui metode dan pengukuran tertentu kemudian dibuat generalisasi yang akhirnya diinduksi menjadi teori.

Mengingat kebenaran suatu teori bersifat sementara, maka dibutuhkan evaluasi suatu teori secara berkesinambungan. Teori yang sudah dapat dapat digugurkan atau dikuatkan kembali meski sudah pernah tergugurkan.

Beberapa patokan yang dapat dijadikan sebagai tolok ukur dalam mengevaluasi kesahihan teori:

a. Cakupan teoritis (theoritical scope). Teori yang dibangun harus memiliki keberlakuan umum. Artinya dapat dijadikan standar untuk mengamati fenomena yang berkaitan dengan teori tersebut.

b. Kesesuaian (appropriatness), Apakah isi teori sesuai dengan pertanyaan-pertanyaan atau permasalahan teoritis yang diteliti. Artinya landasan pikirnya dapat memberikan cara yang sesuai dan benar untuk menjawab pertanyaan penelitian.

c. Heuristic, Apakah suatu teori yang dibentuk punya potensi untuk menghasilkan penelitian atau teori-teori lainnya yang berkaitan. Sebagaimana telah dijelaskan diawal suatu teori merupakan hasil konstruksi atau ciptaan manusia, maka suatu teori sangat terbuka untuk diperbaiki.

d. Validity, Konsistensi internal dan eksternal. Artinya memiliki nilai-nilai objektivitas yang akurat, karena teori merupakan suatu acuan berpikir. Konsistensi internal mempersoalkan apakah konsep dan penjelasan teori konsisten dengan pengamatan, sementara itu konsistensi eksternal mempertanyakan apakah teori yang dibentuk didukung oleh teori-teori lainnya yang telah ada.

e. Parsimony, Kesederhanaan, artinya teori yang baik adalah teori yang berisikan penjelasan-penjelasan yang sederhana.

  1. Penutup

Ilmu (sain) dan teori memiliki jalinan yang kuat. Keduanya dibangun atas dasar fakta yang diolah secara logik dengan menggunakan proposisi yang teruji kebenarannya. Tujuannya adalah untuk kemaslahatan umat manusia.

Ilmu dibangun dari teori dan tujuan teori bukan semata-mata untuk menemukan fakta yang tersembunyi, tetapi juga suatu cara untuk melilhat fakta, mengorganisasikan serta merepresentasikan fakta tersebut. Karenanya teori yang baik adalah teori yang konseptualisasi dan penjelasannya didukung oleh fakta serta dapat diterapkan dalam kehidupan nyata. Bila sebaliknya, maka teori demikian tergolong teori semu. Teori yang baik harus memenuhi dua unsur, yaitu pertama, teori yang sesuai dengan realitas kehidupan dan kedua teori yang konseptualisasi dan penjelasannya didukung oleh fakta serta dapat diterapkan dalam kehidupan yang nyata.

Uraian ini masih bersifat sederhana. Tujuannnya hanya untuk menjelaskan secara umum konsep yang melekat dalam ilmu (sain) dan teori.

Kepustakaan

Bakhtiar, A.

2007 Filsafat Ilmu. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Hayon, Y.P.

2005 Logika Prinsip-prinsip Bernalar, Tepat, Lurus, dan Teratur. Jakarta: ISTN

Muhadjir, N.

2001 Filsafat Ilmu Positivisme, Postpositivisme, dan Postmodernisme. Yogyakarta: Rakesarasin.

Mulyana, A.

2008 ”Teori Komunikasi”, artikel dalam http://www.kuliah-omit, 22 April 2008 diakses tanggal 30 November 2008 pukul 5.30.

Soetriono dan SRDm Rita Hanafie

2007 Filsafat Ilmu dan Metodologi Penelitian. Yogyakarta:

Andi.

Tafsir, A.

2006 Filsafat Ilmu Mengurai Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi Pengetahuan. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Wahyudi, I.

2007 Pengantar Epistemologi. Yogyakarta: Badan Penerbit

Filsafat UGM.

Muhammad Hasri

Widyaiswara LPMP Sulsel

FORMA, PLATO, SAUSSURE

FORMA DI MATA PLATO DAN SAUSSURE

Oleh: Muhammad Hasri

Plato hidup pada tahun 427 – 347 Sebelum Masehi dengan usia 80 tahun, sementara Ferdinand Morgin de Saussure hidup pada tahun 1857 – 1913 Masehi dengan usia 56 tahun. Data ini menunjukkan bahwa kedua pakar ini hidup dalam bentangan waktu yang sangat panjang, 2284 tahun.

Plato dan Saussure memiliki jasa yang sangat besar dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Plato berjasa meletakkan filosofi yang memicu pengembangan kosep dasar ilmu pengetahuan secara umum sementara Saussure memiliki jasa dalam pengembangan linguistik modern. Yang menarik untuk diungkap dari keduanya adalah bagaimana wujud pemikiran Plato dan Saussure dalam dunia ilmu pengetahuan sehingga namanya demikian tenar dan terus hidup dalam diskusi-diskusi para ahli. Apakah keduanya memiliki kesamaan pijakan berpikir ataukah mereka berbeda? Kalau pemikiran mereka sama, bagaimana kesamaannya? dan kalau berbeda, bagaimana pula perbedaannya?

Plato membangun gagasan idealisme dengan konsep forma yang dianutnya. Pemahaman dibangun dengan forma. Sesuatu yang kita pandang ini akan dapat terpahamkan dengan baik melalui idea yang ada dalam diri kita. Yang disebut fakta adalah apa yang ada dalam idea manusia.

Ide berada dalam intelek manusia. Ide tidak berada dalam waktu dan ruang dan tidak dapat berada atau berhenti berada sebagaimana yang terjadi pada bentuk dan ruang. Plato berpendirian bahwa idea sangat mendasar dalam dunia secara keseluruhan.

Plato membedakan antara tindakan yang pious dan piety. Pious merupakan abstraksi dalam ide yang menunjukkan sesuatu yang sama. Forma sesuatu itu sama meski yang terlihat dan terasakan berbeda tetapi sesuatu itu di dalam ide bersifat abadi dan tunggal. Contoh konsep tentang cinta, dalam ide cinta hanya ada satu forma cinta yakni yang ada dalam cinta yang sebenarnya cinta. Cinta yang terlihat diukur kebenarannya berdasarkan cinta dalam forma, bukan cinta dalam rasa yang dimiliki oleh setiap manusia.

Forma diperoleh bersifat epistemologis. Forma tidak diperoleh melalui pengalaman. Forma diketahui secara apriori, dari prior ke pengalaman. Seseorang yang membuat sesuatu, sesungguhnya dia mengkopi apa yang ada dalam forma sesuatu itu karena sesuatu yang dia buat itu sesungguhnya adanya ada dalam idea yang berbentuk forma. Wujud yang dibuatnya itu bukanlah yang sesungguhnya benar-benar ada sebab apa yang ia buat itu akan lekang dimakan waktu dan akan tiada pada tempat ia berada. Yang akan ada dan tak pernah tiada adalah yang ada dalam forma yang ditirumya untuk membuat sesuatu yang dibuatnya.

Dalam pandangan Plato keberadaan sesuatu itu adalah esensi dari sesuatu itu sendiri. Keberadaan sesuatu itu bida dipahami melalui pernyataan tetapi apa yang dinyatakan itu tidaklah selengkap dengan apa yang sebenar-benarnya sesuatu itu sendiri. Sesuatu itu dapat dipahami melalui hubungannya dengan yang lain tetapi pernyataan yang bisa lahir dari hasil penghubungannya dengan yang lain tidaklah pasti adanya. Sesuatu disebut tinggi hanya karena dia diperbandingkan dengan sesuatu yang lebih rendah dari dirinya. Tinggi itu sebenarnya semu yang ada adalah ukuran. Karena pengukuanlah sesuatu itu lebih tinggi dari yang lainnya.

Konsep Plato di atas sangatlah menarik dan sangat sufistik. Konsep ini dijabarkan lebih lanjut oleh Saussure 2284 tahun kemudian melalui forma bahasa. Salah satunya adalah konsep langue.

Langue adalah keseluruhan kebiasaan yang diperoleh secara pasif yang diajarkan oleh masyarakat bahasa, yang memungkinkan para penutur saling memahami dan menghasilkan unsur-unsur yang dipahami penutur dalam masyarakat. Langue bersifat abstrak. Parole adalah keseluruhan yang diujarkan orang, termasuk konstruksi individu yang muncul dari pilihan penutur atau pengucapan yang diperlukan untuk menghasilkan konstruksi berdasarkan pilihan penutur. Parole bersifat konkret. Parole merupakan manifestasi individu dari bahasa. Langue dan parole disatukan dalam langage. Langage merupakan gabungan parole dan kaidah-kaidah bahasa. Langage memiliki segi individual dan segi sosial dan tidak dapat ditelaah yang satu tanpa yang lain. Langage tidak memiliki prinsip keutuhan yang memungkinkan diteliti secara ilmiah.

Dari pikiran Saussure mengenai langue sebagai objek kajian linguistik, lebih lanjut Saussure mengulas mengenai tanda. Dia melakukan pemilahan antara signifer dan signified. Signifie adalah gambaran mental, yakni pikiran atau konsep aspek mental dari bahasa. Signifie merupakan kesan makna yang ada dalam pikiran. Signified adalah gambaran akustis dari bunyi yang bermakna atau coretan yang bermakna (aspek material), yakni gambaran akustis dari apa yang dikatakan dan apa yang ditulis atau dibaca. Signified merupakan kesan psikologis bunyi yang timbul dalam pikiran. Signifie dan signified ibarat dua sisi dari sekeping mata uang. Tanda bahasa menyatukan konsep dan gambaran akustis.

Hubungan antara signifie dan signified bersifat arbitrer (manasuka). Hubungan ini hanya berdasarkan konvensi, kesepakatan, atau peraturan dari kultur pemakai bahasa tersebut. Hubungan antara keduanya tidak dapat dijelaskan dengan nalar apa pun, baik pilihan bunyi-bunyinya maupun pilihan untuk mengaitkan rangkaian bunyi tersebut dengan benda atau konsep yang dimaksud. Karena hubungan yang terjadi antara keduanya bersifat arbitrer, makna signifier harus dipelajari, yang berarti ada struktur yang pasti atau kode yang membantu menafsirkan makna. Tanda yang berupa signifie dan signified mengacu ke rujukan dalam dunia nyata.

Konsep Saussure di atas sejalan dengan pandangan Plato. Langue dan signifie merupakan jabaran dari forma Plato. Keduanya menyetujui alam idea. Signified dan parolenya Saussure di mata Plato merupakan sesuatu yang tidak abadi. Yang abadi hanyalah signifie dan langue.

Prioritas Pengembangan Kurikulum

Saat ini KTSP terus dibenahi. Sekolah merivisi KTSP-nya setiap tahun, bahkan untuk dokumen 2 guru sepanjang hari dapat menguodate RPP-nya.

Menjelang diberlakukannya sistem SKS pada sekolah kategori mandiri (SKM), satuan pendidikan berlomba menggenjot kualitas KTSP-nya. Hal ini disebabkan oleh inginnya mereka dikategorikan sebagai SKM. Indah benar ber-SKM itu. Sebuah sistem yang tak lagi mengenal tinggal atau naik kelas. UN-pun dilakukan selama dua kali dalam setahun. Jadi peserta didik dapat saja menyelesaikan pendidikannya 2, 2.5, 3, 3.5, atau 4 tahun. Bergantung kompetensi yang dilikinya.

Ahhh.. ke mana lagi arah perjalanan pendidikan kita? Bagi mereka yang skeptis kebijakan SKM adalah sebuah kemunduran  tetapi mereka yang optimis sistem SKM adalah sebuah tantangan yang dapat melambungkan kualitas pendidikan kita. Anda tergolong yang mana? Kaum skeptis ataukah optimism?

Ah biarkan waktu berjalan dan kita tetap akan menjadi pelaku dari semua itu.

Lalu apa hubungannya dengan prioritas pengembangan kurikulum?

Untuk para guru bentangan tantangan panjang telah terhampar di depan. Siapa yang kreatif dialah pemenangnya. Dialah yang akan merebut maslahat tambahan yang disediakan dalam payung hukum pendidikan kita. Beasiswa guru, beasiswa bagi anak-anak guru, bonus pendidikan, tunjangan profesi, dan tunjangan daerah terpencil adalah sebagian kecil dari maslahat tambahan yang dapat direbut oleh guru dalam pengembangan kurikulum ini.

KTSP adalah jalan panjang yang dapat mengukir prestasi. Adalah mereka yang tergabung dalam pengembangan pendidikan dapat menggonjot prestasi. Dia adalah DPR yang dapat menulang suara, ataukah walikota yang akan menjual ide, ataukah para kepala dinas yang akan menjual tampang agar tetap bertahan di jabatannya. Adalah KTSp yang dapat menjejali prestasi untuk semua. Bagi guru bukan sebuah jual tampang atau jual ide atau mendulang suara. Kita terbebas dari semua itu. Kita adalah profesi yang menentukan arah masa depan bangsa ini. Kepentingannya melebihi peran DPR, peran walikota, ataukan peran kepala dinas.

Dengan KTSP kita membangun diri dan membangun bangsa ini.

Siapa yang akan mengikhlaskan diri?

Ayolah kita maju bersama meski tanpa dana.